MEMORIAL MATCH - 19 November 2005 - Arema Juara Copa Indonesia

Reporter : Oke Sr

Wearemania.net - Menjelang Final Copa Indonesia 2005, Arema tak hanya membawa semangat publik Malang semata, namun membawa harapan warga Jawa Timur. Muka sepakbola Jawa Timur sebelumnya sempat tercoreng akibat kisruh perhelatan babak 8 besar yang melibatkan Persebaya.

Tim Bajul Ijo (julukan Persebaya) yang digadang-gadang bakal mempertahankan gelar juaranya justru memilih mundur sebelum selesai menyelesaikan jatah pertandingannya di Gelora Bung Karno Senayan. Akibatnya klub yang bermarkas di Tambaksari tersebut harus menerima pesakitan terdegradasi ke Divisi I musim berikutnya(Liga Indonesia 2006). Klub yang idolai oleh Bonek tersebut juga menerima hukuman ganda berupa gugurnya hak mereka untuk mengikuti babak perempat final Copa Indonesia 2005.

Praktis Arema menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur yang diharapkan merengkuh prestasi tertinggi di ajang Copa. Meski pernah maju ke babak final kejuaraan serupa(Piala Liga 1992), Arema tak diunggulkan di ajang ini.

Lawan Arema di babak final, Persija lebih diunggulkan untuk memenangkan Copa Indonesia 2005. Posisi Persija pada musim kompetisi 2005 lebih baik dibandingkan Arema. Pada perhelatan Wilayah Barat Divisi Utama, Arema hanya duduk di posisi kedua dibawah Persija yang sukses menempati posisi diatas Singo Edan dengan keunggulan 3 poin. Puncaknya Tim Macan Kemayoran sukses melaju ke final kompetisi meski pada akhirnya harus rela nangkring di posisi Runner Up, sedangkan Arema sendiri kita ketahui gagal di babak delapan besar yang digelar di Jayapura.

Meski berada pada posisi underdog, pemain Arema tampil percaya diri pada pertandingan yang digelar sore hari tersebut(19/11). Skuat Arema nyaris tampil full team, meski memasukkan Silas Ohee sebagai starter yang akan mengawal mistar gawang Singo Edan. Tampilnya Silas Ohee sempat menimbulkan keheranan karena sejatinya ia bukanlah pemain inti, dan jam terbangnya musim ini masih kalah dibandingkan Kurnia Sandy, penjaga gawang utama Singo Edan yang duduk di bangku cadangan pada pertandingan tersebut.

Pertandingan Final Copa Indonesia 2005 dipimpin oleh wasit Jajat Sudrajat dari Bandung. Sekitar 30.000 lebih The Jakmania yang beratribut oranye memadati tribun di sektor utara. Sementara disisi lainnya sekitar 10.000 Aremania kompak bernyanyi dengan atribut berwarna biru. Gemuruh kedua kelompok suporter membuat suasana pertandingan semakin semarak.

Di menit ke-12 tribun The Jakmania bergemuruh terlebih dahulu ketika Adolfo Fatecha sukses menceploskan bola kegawang Arema. Gol yang dicetak Adolfo terjadi ketika Silas Ohee melakukan blunder, gagal menangkap tendangan bebas yang mengarah tepat pada posisinya. Bola yang hendak ditangkap terlepas dan sukses direbut pemain yang berasal dari Paraguay tersebut.

Ketinggalan 1-0 tak membuat mental pemain Singo Edan down. Dengan dukungan penuh Aremania, I Putu Gede, dkk berkali-kali melakukan serangan ke gawang Persija yang memiliki celah di lini tengah dan sayapnya. Lini tengah tampak mobil pada pertandingan tersebut dengan seringkali merebut kendali permainan lewat usaha yang digalang Joao Carlos, Firman Utina dan I Putu Gede. Ketiganya dibantu oleh Erol Iba dan Alex Pulalo di posisi sayap.

Penetrasi Erol Iba di sisi kanan pertahanan Persija berbuah manis. Ia memberikan umpan ke Franco Hita yang sudah berada didalam kotak penalti lawan. Dengan 1-2 sentuhan ia melepaskan tendangan keras dan berhasil mencetak gol kegawang Persija yang dikawal oleh Mukti Ali Raja.

Skor 1-1 membuat pertandingan berjalan semarak dan dalam tempo tinggi. Kedua tim bermain keras dan berusaha membuat gol tambahan. Kerasnya permainan membuat wasit Jajat Sudrajat mencabut tiga kartu kuning dari sakunya untuk Warsidi, Alexander Pulalo(Arema) dan Lorenzo Cabanas(Persija). Sebelumnya wasit dari Bandung tersebut juga sempat memberikan hukuman kartu kuning kepada I Putu Gede dari Arema di menit ke-17. Skor 1-1 berjalan hingga berakhirnya babak pertama.

Di babak kedua permainan semakin seru dimana kedua tim bermain lebih terbuka. Solo run Firman Utina dari setengah lapangan tidak mampu dihentikan pemain-pemain Persija.

Pemain yang pernah memperkuat Persita tersebut melakukan sprint cepat menggiring bola sepanjang 40 meter dari Gawang Persija, berhasil melalui hadangan pemain-pemain bertahan Persija seperti Charis Yulianto dan Aris Indarto. Dengan sontekannya ia berhasil memperdayai Mukti Ali Raja dan mengantarkan Arema unggul pertamakalinya pada pertandingan final tersebut dengan skor 2-1.

Namun kedudukan itu hanya bertahan sesaat. Selang beberapa menit kemudian, wasit Jajat Sudrajat memberikan keputusan kontroversial dengan menganggap pemain belakang AREMA Sunar Sulaiman melakukan handsball dikotak penalti. Pemain Arema sempat melakukan protes karena dilihat dari tayangan ulang terlihat adanya pelanggaran yang dilakukan salah satu pemain depan Persija terhadap Silas Ohee sebelum insiden yang dianggap handsball tersebut.

Tak hanya pemain Singo Edan, Pelatih Benny Dollo juga sempat mendatangi meja pengawas pertandingan (PP) untuk memprotes terjadinya penalti. Meski mendapat protes Jajat Sudrajat tetap berpendirian pada keputusannya. Persija memperoleh hadiah penalti yang sukses dieksekusi oleh Batoum Roger. Skor berubah menjadi 2-2.

Nasib sial seolah tak berhenti memayungi Arema. Di menit ke-67 pelanggaran yang dilakukan Alex Pulalo dengan melakukan tackling kepada Ortisan Salossa berbuah kartu kuning kedua kepada dirinya. Alhasil wasit Jajat Sudrajat menjatuhkan kartu merah dan mengusir pemain yang musim sebelumnya memperkuat PSIS tersebut dari lapangan.

Keputusan Jajat Sudrajat membuat kubu Arema meradang. Pelatih Benny Dollo langsung mengistruksikan para pemainnya keluar dari lapangan, sebagai protes atas buruknya kualitas wasit asal Bandung tersebut. Mantan pelatih timnas Indonesia ini melampiaskan amarahnya dengan membanting tiang penyangga atap banch.

Semue elemen Arema tampak tegang. Satu persatu pemain Arema berjalan meninggalkan lapangan. Ofisial yang lain juga ikut-ikutan bersuara keras soal wasit. Bahkan, saking tak mampu menahan emosinya, manajer Arema Gandi Yogatama sampai menangis di bench. Air mata bercucuran di pipi mantan kepala Bappeda Kota Malang itu. Meski momen tersebut tak sampai diliput kamerawan televisi, beberapa wartawan yang bertugas tampak mengabadikan kejadian tersebut.

Melihat Gandi menangis, ofisial dan pengurus mencoba menenangkan Gandi. "Sudahlah, Pak. Jangan terlalu bersedih. Kita harus tetap fight," ujar Sekum yayasan Arema Satrija Budi Wibawa, dikutip dari JPNN.

Di tribun penonton, ribuan Aremania bereaksi secara verbal, lewat nyanyian sembari mengipaskan lembaran uang sebagai sindiran kepada wasit tersebut. Untungnya kebisingan di tribun penonton tidak berlanjut dalam bentuk tindakan kekerasan. Kedua suporter masih memiliki komitmen dalam mewujudkan perdamaian yang digagas bersama pihak kepolisian dan PSSI sebelumnya.

Aksi mogok pertandingan yang dilancarkan Arema berlangsung selama empat belas menit. Komisi pertandingan tampak melakukan diskusi dan membujuk kubu Arema untuk bersedia melanjutkan pertandingan. Akhirnya pertandingan pun dilanjutkan kembali.

Kalah dalam jumlah pemain tak dimaksimalkan oleh kubu Persija. Di menit ke-77. giliran Persija yang bernasib sial. Tackling pemain belakang Persija yang dilancarkan ke Franco Hita berbuah hukuman kartu kuning kedua kepada dirinya. Akibatnya ia harus menerima kartu merah dari saku wasit Jajat Sudrajat.

Dengan jumlah pemain yang seimbang, pertandingan pun kembali berjalan seru. Gelandang Arema, Firman Utina membuat peluang meski tendangan kerasnya masih menyamping di sisi gawang Mukti Ali Raja. Arema berhasil unggul kembali di menit ke-85 setelah pemain asal Manado tersebut kembali melakukan solo run, menerobos celah lini belakang Persija setelah sebelumnya lolos dari jebakan offside. Dengan tenang ia mencetak gol ke arah kanan gawang Mukti Ali Raja.

Keunggulan 3-2 untuk Arema tak bertahan lama. Pemain yang sebelumnya mengantarkan Persebaya sebagai Juara Divisi Utama 2004, Kurniawan DJ masuk di menit ke-87. Hanya berselang dua menit kemudian ia berhasil menyamakan skor lewat sundulan di menit ke-89. Puluhan ribu The Jakmania langsung bergemuruh menyambut gol yang dicetak pemain asal Magelang tersebut. Tak lama kemudian babak kedua berakhir dengan kedudukan 3-3.

Sesuai aturan Copa Indonesia, jika akhir babak kedua berjalan imbang, maka pertandingan akan dilanjutkan lewat perpanjangan waktu 2x15 menit dengan sistem classic goal. Di babak ini suasana drama masih terjadi.

Di babak pertama perpanjangan waktu, barisan skuat Singo Edan memperlihatkan keunggulan stamina dan mental. Firman Utina menegaskan statusnya sebagai bintang lapangan pada laga itu. Aksi heroiknya dimenit ke-96 berhasil mengantarkannya mencetak hat trick dengan melepaskan sontekan ke gawang Persija, setelah memanfaatkan umpan dari rekannya di lini tengah. Skor berubah menjadi 4-3 untuk keunggulan Arema.

Gol Utina ini benar-benar menjadi klimaks dari pertandingan tersebut. Pemain Persija tampak lesu darah karena terpukul dengan akselerasi dan gol cepatnya tersebut. Apalagi setelah gol tersebut pemain Persija tak berhasil menyamakan kedudukan kembali. Kuatnya lini tengah Arema membuat Tim Macan Kemayoran gagal membuat serangkaian peluang emas di lini belakang Singo Edan. Akhirnya wasit Jajat Sudrajat meniup peluit panjang berakhirnya pertandingan setelah kedua tim memainkan pertandingan yang penuh drama dalam waktu 120 menit.

Arema sukses sebagai juara Copa Indonesia 2005. Hasil ini seolah membayar kegagalan sebelumnya, tepatnya ketika tiga belas tahun lalu Arema kalah 1-0 dari Semen Padang di final Piala Liga(Piala Galatama) 1992.

Arema sebagai Juara Copa Indonesia menerima piala tetap Piala Copa Dji Sam Soe Indonesia 2005 dan memboyong piala bergilir Piala Indonesia Copa Dji Sam Soe ke Malang. Selain itu Singo Edan juga mendapatkan uang pembinaan senilai Rp 1.000.000.000,00 dan berhak atas jatah tampil di Liga Champions. Firman Utina yang mencetak hat trick di liga final juga diganjar award sebagai pemain terbaik, dan berhak memboyong trophy dan mobil Suzuki APV.

Bagi Persija, kekalahan di laga final ini ibarat petaka. Skuat asuhan Arcan Iurii tersebut gagal mewujudkan mimpi The Jakmania meraih double winners di Liga dan Copa Indonesia 2005.

Lanjut Ke Intro
Loading...

Komentar Aremania

Jadwal Pertandingan

VS
Liga 1 2019 - Stadion Kanjuruhan - 26/7 - 15.30 WIB
Jadwal Selengkapnya

Jadwal Pertandingan

1 - 0
Liga 1 2019 - Stadion Ratu Pamelingan - 20/7 - 18.30 WIB
Hasil Selengkapnya